Abstrak

Posted on Updated on

Abstrak (Abstract)

Gandjar Sakri

Buat Makalah 2

Banyak mahasiswa peserta mata kuliah Seminar yang kesulitan membuat abstrak pada makalahnya. Memang, untuk meringkas tulisan yang panjang, menyaringnya menjadi intisari tulisan, tidaklah mudah. Tapi, dalam hal ini, persoalannya lebih disebabkan oleh ketidakfahaman mereka tentang arti abstrak itu sendiri, fungsi abstrak, isi abstrak dan bentuk abstrak. Mengingat hal tersebut, di bawah ini saya sajikan perihal abstrak tersebut disertai beberapa contoh bentuk abstrak.

Pengertian

Abstrak adalah ringkasan atau inti sari yang mencerminkan keseluruhan isi suatu karya tulis ilmiah atau laporan ilmiah. Menggunakan pernyataan-pernyataan singkat, jelas, informatik. Ditempatkan setelah judul dan penulis. Diketik satu spasi dalam satu paragraf, maksimal 250 kata dengan margin kiri menjorok masuk beberapa ketukan ke dalam (tab). Biasanya, dibawahnya diikuti dengan Kata kunci
(Key words).

Ada juga abstrak yang panjang yang disebut extended abstract. Abstrak semacam ini dibuat untuk dikirimkan pada panitia seminar, symposium dll. Maksudnya agar panitia memperoleh gambaran yang agak lengkap tentang isi makalah.

Kata kunci (Key words)

Kata kunci adalah kata atau istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang dibahas dalam makalah.

Fungsi abstrak

Abstrak berfungsi untuk memudahkan pembaca mengetahui isi tulisan di bawahnya. Bila tulisannya ada kaitannya dengan kepentingan pembaca, menimbulkan minatnya atau merangsang rasa keingintahuannya, dia akan melanjutkan membaca isi tulisannya. Abstrak biasanya ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan Inggeris.

Isi abstrak

Isi abstrak tergantung bentuk tulisannta. Ada abstrak yang merupakan ringkasan biasa, inti sari keseluruhan tulisan (abstrak indikatif), ada pula yang di dalamnya mencakup latar belakang/masalah, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan (abstrak informatif).

Sifat abstrak

Di bawah ini saya kutipkan sifat abstrak, dan jenis abstrak dari sumber: http://staf.cs.ui.ac.id/webkuliah/

Abstrak yang baik adalah abstrak yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Ringkas, dinyatakan dengan kata atau kalimat yang ringkas dan terhindar dari ekspresi yang berlebihan (redundancy).
  2. Jelas, menggunakan kata atau kalimat yang jelas dan terhindar dari arti ganda (ambiguity).
  3. Tepat, menggunakan ekspresi yang tepat dan spesifik dalam menggambarkan isi dokumen.
  4. Berdiri sendiri, deskripsi dari dokumen digambarkan secara lengkap dan dapat dimengerti sepenuhnya tanpa harus merujuk pada dokumen lain.
  5. Objektif, terhindar dari interpretasi dan dan penilaian pribadi pengabstrak.

Jenis abstrak

Secara garis besar abstrak dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu abstrak indikatif dan abstrak informatif.
Abstrak indikatif berisi pernyataan umum yang menggambarkan tentang apa yang dibahas dalam suatu dokumen. Abstrak indikatif biasanya relatif lebih singkat, terdiri antara 50-100 kata. Abstrak informatif merupakan kondensasi (pemampatan. GS) informasi yang berisi tujuan, metode, data, hasil analisis, kesimpulan dan rekomendasi yang terkandung dalam dokumen. Abstrak informatif biasanya terdiri antara 100-500 kata.

Selain abstrak informative dan indikatif terdapat jenis abstrak indikatif-informatif yang merupakan gabungan dari abstrak indikatif dan informative. Dalam hal ini bagian-bagian abstrak ditulis secara informative akan tetapi pokok-pokok yang kurang penting disajikan secara indikatif. Abstrak jenis ini dapat memberikan informasi maksimal dengan panjang minimum.

Jenis ringkasan lainnya

Di samping abstrak terdapat beberapa jenis singkatan dokumen yang lain.

  1. Anotasi
    (annotation), adalah catatan yang ditambahkan pada data bibliografi berupa penjelasan yang berkaitan dengan isi dokumen.
  2. Ekstrak (extract), adalah bentuk ringkasan dokumen yang terdiri dari satu atau beberapa bagian dari dokumen yang menonjol seperti hasil, kesimpulan atau rekomendasi yang bertujuan untuk mengidentifikasi isu utama yang tercakup dalam dokumen.
  3. Ringkasan (summary), adalah pernyataan mengenai dokumen yang berisi temuan dan kesimpulan yang menonjol dengan tujuan untuk memberikan orientasi pad aide yang signifikan yang terdapat dalam dokumen yang bersangkutan.
  4. Singkatan (abridgement),
    adalah kondensasi dokumen yang berisi gagasan utama yang terdapat dalam dokumen dengan mengabaikan gagasan-gagasan sekunder.
  5. Sinopsis (synopsis),
    adalah ihtisar yang diberikan oleh pengarang mengenai suatu pekerjaan.

Sementara itu, Yayasan Spiritua (http://spiritua.or.id) mensyaratkan, bahwa abstrak yang baik adalah: secara fisik singkat dan indah, sedangkan isinya = 4C:
clear (jelas), complete (lengkap), concise (singkat) dan cohesive (logis/saling sesuai).

Contoh Abstrak

Contoh abstrak 1: Berupa ringkasan atau inti sari biasa, pernyataan secara umum (abstrak indikatif). Di bawah ini contoh abstrak dari judul: Ngaben: Ketika Kematian Hanya Sementara, tulisan Wegig Murwonugroho; Agus Nugroho Udjianto dan Arif Datoem.

Abstrak

Setiap upacara kematian biasanya diiringi dengan isak tangis dan ratap yang tak berkesudahan, namun tidak demikian di Bali. Ngaben, upacara pembakaran mayat Hindu Bali, menjadi ajang pesta kebahagiaan yang riuh. Menjadi pesta masal yang terkadang terlihat begitu liar, namun sangat sacral. Bagi orang Hindu Bali, tubuh adalah tempat tinggal sementara bagi jiwa yang abadi. Ketika manusia mati, maka sang jiwa, beserta kelima unsurnya, harus melepaskan diri dari sang tubuh untuk kemudian menyatu dengan alam makrokosmosnya. Jiwa itu akan melewati beberapa neraka, menuju surge, lalu akan dibangkitkan lagi dalam tubuh yang lain di dunia. Tak ada ratapan, karena peristiwa pembakaran inilah yang paling ditunggu oleh sang jiwa dan sanak keluarga, membebaskan diri dari segala yang fana untuk berpulang menyatu kepada Hiang Widi.

Kata kunci: Ngaben, Pitra Yadnya, mikrokosmos, makrokosmos. Palebonan.

(Dikutip dari: Dimensi. Vol.4, No.1. September 2006)

——————–

Contoh abstrak 2: Berupa ringkasan dengan menyebutkan permasalahan, tujuan penelitian, metode, hasil dan kesimpulan (abstrak informatif). Misalnya abstrak dari judul: Psikopatologi pada Prajurit Marinir TNI Angkatan Laut di Wilayah DKI Jakarta saat Menjelang Purna Tugas Beserta Kebiasaan Kontrol Rutin Kesehatannya, tulisan Safrina Gandjar S.; Danubrata W.; Nandaka K.T.; Damping, C.E.; Wiwie, M.

Abstrak

Gejala psikopatologi banyak mengenai individu menjelang masa purna tugas. Penelitian ini untuk mengetahui secara diskriptif prefalensi psikopatologi anggota prajurit Marinir TNI Angkatan Laut saat menjelang purna tugas. Penelitian porong lintang ini dilakukan terhadap 96 sampel anggota Marinir TNI Angkatan Laut saat menjelang masa purna tugas di wilayah DKI Jakarta, periode Agustus 2004 –Oktober 2006 dengan menggunakan instrumen SCL-90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prefalensi psikopatologi anggota Marinir TNI Angkatan laut menjelang purna tugas 1 – 3 tahun ke depan sebesar 42,7%. Proporsi mereka terdiri tiga tahun menjelang purna tugassejumlah 2,4 %, dua tahun sejumlah 61,3% dan satu tahun sejumlah 91,3%. Secara umum dimensi psikopatologi yang didapat dalam penelitian ini, adalah somatisasi 51% psikotikisme dengan uji disquare 38,5% fobia, 38,5% idea paranoid, 37,5% ancietas, dipresi 33,3%, item tambahan 33,3%, obsesi kompulsif 32,3%, hostile 27,1% sensitifitas interpersonal 25%. Disimpulkan bahwa lebih dari 60% anggota Marinir TNI Angkatan Laut mengalami psikopatologis yang telah timbul mulai dua tahun menjelang purna tugas dan berdampak pada ketidaktaatan menjalani control rutin kesehatannya.

Kata kunci: anggota Marinir TNI Angkatan Laut, menjelang pension, psikopatologi, SCL-90

(Dikutip dari: JIWA. Majalah Psikiatri. Th………. No … 2007)

——————–

Contoh abstrak 3: Abstrak gabungan antara abstrak indikatif dan abstrak informatif dengan menyebutkan tujuan, metode penelitian dan hasil. Dikutip dari buku: Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah.

Abstract

The aim of this study was to assess the readiness of elementary school teachers in mathematics teaching, from the point of view teachers’ mastery of the subject. Forty two elementary school teachers from Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang were given a test in mathematics which was devided into two parts, arithmatics and geometry. A minimum mastery score of 65 was set for those who would be classified as in adequate readiness as mathematics teachers. Those who obtain scores of less than 65 were classified as not in adequate readiness in teaching. The results of the study indicated that that 78,8% of the teachers obtained scores of more than 65 in geometry. Sixty-nine point five percents of the teachers got more than 65 in arithmatics and 65,5% gained scores of more than 65 in both geometry and arithmatics.

Key wards: mathematics teaching, teaching readiness, subject mastery.

(Sumber: Ibnu, Suhadi. Anatomi Artikel Hasil Pemikiran dan Artikel Hasil Penelitian (Menulis Artikel untuk Jurnal Ilmiah, edisi3 Juni 2002. Penynting: Ali Saukah, Mulyadi G. Waseso. Malang: UM Press)

——————–

Contoh abstrak 4: Abstrak panjang (extended abstract), dibuat untuk panitia seminar, konperensi, dsb. Di bawah ini contoh extended abstract dari judul: Re-Invention of Tradition, Designers as Agents of Change, tulisan Ananda Moersid (Institut Kesenian Jakarta, Indonesia) yang dikirimkan untuk Panitia konperensi “Fine Arts and Design Conference”, ITB, Bandung.

Abstract

Nowadays, what is called ‘tradition’ is something that appears to be or declared to be ‘old’ often has a recent or new origin or even constitutes a new re-invention. Eric Hobsbawm (1987) sees this as a conscious effort to construct a new identity based on tradition that besides functioning as a builder of social ties. It is also needed politically to legitimize status and authority. Benedict Anderson (1993) perceives the concept of tradition as constantly changing in line with political interests. It is therefore a social construction, particulary for the sake of creating a distinct identity that a colonial master or newly independent state might want to establish. If ‘authentic tradition’ can also be constructed or reconstructed for the political interest or as so often happens these days,for the sake of tourism, how is tradition – in these case the traditional visual arts – to be positioned with the global market pounding on the door?

At this moment, like it or not, all things that were once offered in rituals and religious performances are now being offered to a more real power: tourism. The traditional arts industry is now created mostly for and absorbed mainly by the tourist industry. Michel Picard and Robert E. Wood (1997) stated that is the current trend that only cultures – wether ethnic, national or regional – that are ableto translate their qualities into ‘marketable commodities’ will be the ones that globalize well. The local-global has been going for a long time in Indonesia, Primadi Tabrani (2003) noted that the South-East region has been an arena of cros-cultural traffic since pre-historic times. : whatever comes from esources, it is always absorbedrefined while still retaining its local identity.

The question now is: What is the role of the craftpeople, designers, entrepreneurs and patrons traditional arts? How do we render the quality of our common possessions fit for competition in the global market? To succeed in a cultural production arena where production and re-production occurred, person must make use all knowledge, skill and talent in the most beneficial possible way. To succeed one has to invest all the capital in order to gain the greatest benefit in the arena (Bourdieu. 1993). Economic capital alone is not enough, an effort must be made to attain cultural capital, the constant cultural knowledge, competence and superiority in one’s field. By accumulating various capilal and social recognition, designers as ‘the agents of change’, aside from changing in the face of market pressure, they have to possess the ability to change, form and condition the cultural production arena. Globalization is not something to be feared and avoided because the ‘glocalization’ process are constant dialogues and negotiations that could become the source of creativity.

(Sumber: Fine Arts and Design Conference: “The Shifting from Traditional to Contemporary Visual Culture”, June 19th-20th, 2009, Institut Teknologi Bandung).

——————–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s