Asal Mula Film Animasi

ASAL MULA FILM ANIMASI

Oleh Gandjar Sakri

Diawali Dengan Kesan Gerak

Sejak jaman baheula manusia ingin menciptakan gerak pada gambar yang mereka buat. Hal ini dapat dilihat pada artefak peninggalan peradaban Mesir kuno, 2000 tahun SM. Salah satu artefak (artifact)berupa beberapa panel yang menggambarkan aksi dua pegulat dalam beberapa pose, menggambarkan  gerakan berbeda.  Selanjutnya,  dalam salah satu ilustrasinya, Leonardo da Vinci melukiskan anggota tubuh manusia dalam berbagai pose, sementara Giotto di Bondone,  seorang pelukis Itali, juga melukiskan malaikat dalam posisi terbang dengan repetisi gerakan (Apa lukisan yang di bawah  ini berangkali yang dimaksud?)

Lukisan Giotto

Upaya Menggerakkan Gambar

Salah satu upaya  untuk menghidupkan gambarialah diciptakannya suatu alat  yang bernama Phenakistoscope disebut juga Phenakistiscope. Ini merupakan alat yang mengawali gambar hidup atau animasi.  Diciptakan   tahun 1832 secara berbarengan  oleh  Joseph Plateau dari Belgia dan  Simon von Stempfer dari Austria. Phenakistoscope berupa dua buah lempengan besi berbentuk cakram yang saling berhadapan dengan rangkaian gambar di salah satu sisinya, layaknya rangkaian frame pada film animasi sekarang. Sedangkan di sisi cakram lainnya terdapat lobang untuk merefleksikan gambar pada cermin. Baca lebih lanjut

Iklan

Arsitektur

Weisman Art Museum

Arsitektur Dekonstruksi

Weisman Art Museum

Bentuk museum yang nampak unik ini. Weisman Art Museum,  dibangun pada tahun 1934 di kampus University of Minnesota.  Museum ini menyajikan berbagai macam karya seni yang awalnya dikumpulkan oleh Frank Gehry dan Frederick R. Weisman.   Gehry  adalah salah seorang arsitek yang dikenal terbaik saat itu, merancang bangunan museum tersebut.  Sedangkan Weisman dikenal sebagai dermawan terkenal bidang seni.

Koleksi tetap museum mencakup lebih dari 17.000 karya seni.  Selain menjadi museum publik, juga berperan sebagai salah satu pusat pembelajaran utama untuk seni, menawarkan berbagai macam program yang menggunakan seni sebagai media, untuk menulis kreatif, berpikir kritis, dan latihan observasi serta forum publik. Baca lebih lanjut