Film Animasi Indonesia Rasa Holywood

FILM ANIMASI INDONESIA rasa HOLYWOOD

Oleh: Gandjar Sakri

Bila tidak ada hambatan, pada akhir 2013 nanti, publik tanah air akan bisa menyaksikan film animasi dua dimensi (2D) layar lebar pertama buatan lokal. Film animasi tersebut berjudul “Battle of Surabaya” yang diproduksi STMIK Amikom Yogyakarta. Demikian saya baca di koran Republika awal September yang lalu dengan judul “Saatnya Membangun Industri Animasi”. Ketua STMIK Amikom Proff. Dr. Suyanto.mengatakan, film animasi ini rencananya akan diedarkan di seluruh Indonesia atau regional Asia.

Battle of Surabaya berkisah tentang petualangan seorang remaja tukang semir sepatu bernama Musa, yang menjadi kurir bagi pejuang-pejuang arek Suroboyo dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dalam pertempuran 10 November 1945. Baca lebih lanjut

Iklan

Metamorfosa

METAMORFOSA

Oleh: Gandjar Sakri

Membuat inbetween

Membuat inbetween

Metamorfosa adalah proses perubahan bentuk atau wujud fisik dari bayi menjadi dewasa yang terjadi pada beberapa jenis binatang, seperti ulat bulu melalui kepompong menjadi dewasa berupa kupu-kupu, berudu atau kecebong berubah wujud menjadi anak katak yang berekor sebelum menginjak dewasa menjadi katak sempurna.

Dalam mata kuliah Film Animasi di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Univ. Trisakti, dikenal pula istilah metamorfosa.  Di sini, istilah tersebut (atau dikenal pula dengan istilah transformasi)  merupakan proses perubahan bentuk yang terjadi secara bertahap dari bentuk awal menjadi wujud akhir yang berbeda. Misalnya dari bentuk kodok perlahan-lahan Baca lebih lanjut

Asal Mula Film Animasi

ASAL MULA FILM ANIMASI

Oleh Gandjar Sakri

Diawali Dengan Kesan Gerak

Sejak jaman baheula manusia ingin menciptakan gerak pada gambar yang mereka buat. Hal ini dapat dilihat pada artefak peninggalan peradaban Mesir kuno, 2000 tahun SM. Salah satu artefak (artifact)berupa beberapa panel yang menggambarkan aksi dua pegulat dalam beberapa pose, menggambarkan  gerakan berbeda.  Selanjutnya,  dalam salah satu ilustrasinya, Leonardo da Vinci melukiskan anggota tubuh manusia dalam berbagai pose, sementara Giotto di Bondone,  seorang pelukis Itali, juga melukiskan malaikat dalam posisi terbang dengan repetisi gerakan (Apa lukisan yang di bawah  ini berangkali yang dimaksud?)

Lukisan Giotto

Upaya Menggerakkan Gambar

Salah satu upaya  untuk menghidupkan gambarialah diciptakannya suatu alat  yang bernama Phenakistoscope disebut juga Phenakistiscope. Ini merupakan alat yang mengawali gambar hidup atau animasi.  Diciptakan   tahun 1832 secara berbarengan  oleh  Joseph Plateau dari Belgia dan  Simon von Stempfer dari Austria. Phenakistoscope berupa dua buah lempengan besi berbentuk cakram yang saling berhadapan dengan rangkaian gambar di salah satu sisinya, layaknya rangkaian frame pada film animasi sekarang. Sedangkan di sisi cakram lainnya terdapat lobang untuk merefleksikan gambar pada cermin. Baca lebih lanjut

Tiga Elemen Penting dalam Pembuatan Film

Tiga Elemen Penting dalam Pembuatan Film

Republika, Sabtu 4 Juni 2011

"The Exorcist". (antara.co.id)

Setiap film diciptakan dengan aspek teknis seperti  soal pencahayaan sampai angle. Sulit membayangkan sebuah film bisa bertutur sempurna tanpa dukungan pencahayaan, pemilihan angle, hingga gaya film itu sendiri.

Mau tahu elemen apa saja yang memengaruhi pembuatan film?  Dalam lokakarya yang digelar di studio Oktagon, Amos Ezra  Katz, seorang pengajar mata kuliah sinematografi di New York University Tisch Asia School  or The Arts memaparkan sejumlah aspek teknis tersebut. Berikut sejumlah elemen terpenting itu: gambar, gaya dan cahaya.

1.       Gambar

Gambar atau lazim disebut shot  adalah elemen paling utama dalam sebuah film. Rata-rata terdapat 300 hingga 400 shot dalam satu film.  Amos mengatakan, film diceritakan lewat gambar-gambar itu.

Setidaknya ada tiga macam shot yang umum digunakan:  wide shot, close up dan medium shot. Soal pilihan shot, Amos mengatakan,  pilih dengan cermat shot apa yang mau dipakai. “Chose and earn your shot (Pilih dan buat pilihan gambarmu),” ucap Amos. Baca lebih lanjut